News

Dolar AS Menguat, Industri Ini Diuntungkan

15 July 2018

Jakarta - Belakangan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terus menghantam rupiah. Akibatnya dolar AS beberapa kali tembus ke level Rp 14.400. Namun, industri berbasis sumber daya alam justru diuntungkan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyampaikan ada industri yang diuntungkan dan tertekan akibat dolar AS menguat.

"Untuk industri yang berbasis bahan baku domestik, seperti CPO (Crude Palm Oil), itu diuntungkan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima, Minggu (15/7/2018).

Sementara industri yang komponen impornya masih tinggi, atau dunia usaha yang punya utang di luar negeri mengalami tekanan lebih berat.

Dia pun menyatakan pihaknya konsisten mendorong pertumbuhan populasi industri hilir di dalam negeri, terutama pengolahan minyak sawit. Apalagi produksi CPO nasional diperkirakan mencapai 42 juta ton pada 2020.

"Hilirisasi industri akan meningkatkan nilai tambah dan kemampuan dalam menghasilkan produk yang beragam dan inovatif, sebutnya.

Salah satu sektor hilir minyak sawit yang saat ini pengembangannya sedang dipacu adalah subsektor industri oleokimia.

"Pasar produk oleokimia, baik di domestik maupun ekspor, masih terbuka luas karena merupakan kebutuhan bahan baku bagi sejumlah industri," terangnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, Indonesia berkontribusi sebesar 48% dari produksi CPO dunia dan menguasai 52% pasar ekspor minyak sawit. Di luar itu, pemerintah juga berupaya mengurangi impor.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara industri pengolahan berbasis sumber daya alam masih menunjukkan kinerja yang cukup baik dan
mengalami surplus perdagangan. Capaian positif ini perlu dijaga di tengah kondisi tekanan terhadap nilai rupiah dan isu perang dagang antara Amerika Serikat dengan China yang mulai terasa dampaknya pada neraca perdagangan internasional.

"Oleh karena itu, kinerja yang baik ini harus terus dijaga melalui pengambilan kebijakan yang tepat untuk mengatasi segala hambatannya," katanya.

Ngakan juga menjelaskan pihaknya terus mendorong masuknya investasi di sektor industri kimia hulu. Hal itu sebagai salah satu langkah mengurangi ketergantungan impor.

"Contohnya, perusahaan asal Korea Selatan, Lotte Chemical akan melakukan peletakan batu pertama di Cilegon untuk pembangunan pabrik yang memproduksi nafta cracker pada akhir tahun 2018," sebutnya.

Perusahaan tersebut akan menggelontorkan investasi mencapai US$ 3,5 miliar. Ini diharapkan bisa mendukung pengurangan impor produk petrokimia hingga 60%.

Disamping itu, lanjut Ngakan, PT Chandra Asri Petrochemical juga berencana membangun kembali pabrik pengolah nafta cracker kedua yang menelan investasi sebesar US$ 4-5 miliar.

"Dengan tambahan investasi kedua perusahaan tersebut, Indonesia akan mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3 juta ton per tahun atau yang terbesar keempat di ASEAN setelah Thailand, Singapura dan Malaysia," tambahnya
.

Sumber: https://finance.detik.com/industri/d-4115563/dolar-as-menguat-industri-ini-diuntungkan